Beranda Pojok Ternate Sadarkan Hati, Pulihkan Jiwa

Sadarkan Hati, Pulihkan Jiwa

75
0
BAGIKAN

Oleh : Danlanal Ternate Kolonel Laut Rizaldi

Hati menjadi inspirasi dan cahaya penerang kehidupan, terang dan redupnya jiwa dipengaruhi oleh kekuatan pancaran cahaya dari hati sanubari, sebab kata hati tidak pernah dusta.

Suara hati tidak terdengar, namun dapat merubah hitam putihnya dunia seseorang, hati ibarat selembar kertas putih bersih tanpa noktah noda, namun perjalanan hidup ini telah merubah warnanya menjadi hitam bertambah pekat atau abu-abu karena noda dan dosa, jagalah hati dan janganlah di kotori.

Tatkala hati dan pikiran kita selalu disuguhi oleh pancaran aura negatif yang dipenuhi aroma kebencian terhadap seseorang disertai oleh sejuta alasan pembenaran, maka sesungguhnya kita telah menciptakan jurang pemisah yang sangat dalam serta sekaligus menghakiminya tanpa secuil pemaafan egoisnya kita

Seharusnya banyak hal positif dan berharga dalam kehidupan ini dapat diraih, tapi kenapa kita lebih senang menghabiskan banyak waktu untuk berpikir negatif, bahkan kita lebih senang mencari celah yang bertujuan membuka aib dan menelanjangi kelemahan orang lain yang belum tentu bersalah. Padahal dalam kehidupan nyata, sesungguhnya belum tentu kita memiliki kepribadian mulia dan lebih baik dari mereka, sebab kita juga manusia biasa yang tak luput dari khilaf, cela, noda dan dosa.

TANDA TANYA ?

Apakah sulit bagi kita untuk mencegah mulut ini agar tidak mengucapkan kata-kata yang dapat menyakiti perasaan orang lain?

Kenapa kita lebih senang melontarkan kalimat sinis atau sadis kepada seseorang yang tidak disukai?

Pernahkah kita berfikir atau merasakan bagaimana sendainya bila hal tersebut terjadi pada diri kita? Cobalah renungkan, tak terhitung berapa kali gigi ini mengigit lidah di dalam mulut, tapi mereka tetap saling memaafkan. Meskipun mata kiri tidak pernah melihat mata kanan atau sebaliknya, tapi kedua mata tetap setia untuk menatap, berkedip dan menangis dalam suka maupun duka secara bersamaan.

Tuhan saja Yang Maha Sempurna dari semua makhluk di muka bumi dan Maha Berkuasa diatas segalanya, masih memberikan kesempatan Ke-2 kepada hamba Nya untuk bertobat, menata hati dan memperbaiki diri. Bahkan teramat sering kita mengabaikan akan Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tidak pilih kasih ataupun sayang kepada hambaNya.

Terkadang Kita ingkar atas segala kelebihan yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan semata.

Apa yang kita miliki bukan untuk selamanya, tidaklah abadi, bersifat sementara serta tidak mutlak ataupun kekal. Sertifikat atas hidup dan kehidupan yang kita sandang hanyalah Hak Guna Pakai termasuk Nyawa diraga kita. Namun acapkali kita terlambat menyadarinya, meskipun teramat sering diingatkan oleh banyak petuah, nasehat bahkan tegoran dari setiap peristiwa. Bahkan kita terus terbuai oleh sifat Egois dan tanpa ada rasa empati terhadap sesama, seakan semua kelebihan yang ada merupakan hasil jerih payah serta talenta pribadi diri semata.

TANDA SERU !

Seharusnya, lebih baik bila kita MENJAGA HATI agar tidak mudah sensitif dan tersinggung, atau MELAKUKAN KEBAIKAN agar lebih disenangi oleh orang lain!

Semestinya kita berupaya lebih mengisi hari-hari dengan MENATA HATI agar hidup kita menjadi berarti, ada baiknya bila kita menutup mata dan mengabaikan kekurangan orang lain, agar hati kita lebih tenang tanpa beban! Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri untuk diselesaikan dengan cara dan metodenya sendiri!

Seyogyanya kita senantiasa Mawas Diri bahwa kehidupan tidaklah Hakiki, kita tidak bisa hidup sendiri. Menjadi kita yang sekarang ini tidak terlepas karena adanya campur tangan orang-orang disekitar kita!

ILUSI MIMPI.

Semakin tinggi posisi yang dipercayakan kepada kita, semakin eforia kita tak terbendung, sehingga kita justru sering meminta orang-orang disekitar kita untuk menghargai, menghormati dan menyanjung kita secara berlebihan. Bahkan tidak sedikit diantara kita justru memanfaatkan kesempatan yang langka tersebut untuk menggelembungkan gelimang kemewahan.

Seakan dunia menjadi milik pribadi sedangkan yang lainnya menumpang. Menjadi manusia setengah dewa yang bertahta diatas khayangan. Kehidupanpun seakan berubah bak keluarga Bangsawan berdarah biru dan suka mempertontonkan kepalsuan yang dimiliki serta mengkalkulasi semua kebaikan yang telah diberikannya agar dikembalikan dengan pamrih yang melebihi dari permainan para rentenir ataupun tengkulak di musim paceklik.

Di sudut kehidupan lainnya, hati kita merasa enggan dan risih bila disaingi, bahkan dengan sengaja mengabaikan atau berpura-pura lupa pada kebaikan yang telah diberikan oleh mereka.

Jangan pernah berpikir bahwa setiap pemberian selalu harus ada balasannya. Justru karena keikhlasan dalam memberi maka kelak tanpa disadari akan terbuka pintu-pintu rezeki dan datangnya balasan imbalan yang terbaik dari segala arah yang tak akan pernah diprediksi sebelumnya.

Jangan pernah terobsesi oleh khayalan dan menunggu seseorang datang menghampiri untuk membuat kita menjadi lebih terhormat dan bertambah bahagia. Itu hanya bualan, ilusi, semu dan mustahil. Justru sebaliknya, dari sikap kitalah yang akan membawa kita berujung pada kebahagiaan atau malah berlumuran kesengsaraan.

Prosesi Drama Kehidupan….

Dalam permainan adegan kehidupan, kita sering disebut sebagai Pemenang, Juara, Terbaik, Terkenal atau Nomor SATU. Hal tersebut dikarenakan adanya penilaian pembanding terhadap orang lain yang Kurang Beruntung atau disebut Nomor 2, 3 dan seterusnya. Namun juara sejati tidak haus sanjung puji di mata insani. Akan tetapi Dia mampu untuk selalu memenangkan hati dan pikirannya menjadi lebih berarti bagi sekitarnya.

Jadilah aktor yang berperan sebagai sutradara, karena kita akan berpikir cemerlang di setiap fase skrip cerita yang ditorehkan diatas lembar kehidupan. Lakon tidak harus menang diakhir episode cerita kehidupan, namun lakon yang hebat akan selalu tampil sebagai sosok idola yang sangat diharapkan menjadi pahlawan oleh orang- orang disekitarnya.

Kehidupan seperti hitungan rumus Matematika:

Dimana perencanaan menata kehidupan agar lebih baik dan bermanfaat bagi sesama, akan bernilai 60%.

Berusaha bekerja menunaikan cita-cita dan asa, akan bernilai 35%.

Selanjutnya ditutup dengan kekuatan Doa tulus suci guna menambal setiap lubang-lubang kekurangan dan menambal setiap sobekan cela aib yang menganga serta menambal setiap warna noda hitam kelam malam kehidupan suram dimasa silam, akan bernilai 5%.

Formulasikan rumusan Matematika kehidupan yang tepat sebagai landasan berpijak kita dalam mengarungi luasnya samudera raya kehidupan ini.

Ingatlah Wahai Sahabat:

Apa yang telah terjadi di WAKTU KEMAREN, itu akan jadi kenangan.

Waktu Sekarang mengharuskan kita melakukan perbaikan. Sedangkan yang akan terjadi di WAKTU ESOK masih menjadi misteri dan tanda tanya?

Namun peluang dan kesempatan masih terbuka lebar, tidak ada kata terlambat merebut harapan dan meraih impian masa depan. Asalkan kita mau terus berusaha untuk belajar.

Belajar dan belajar dari setiap kekurangan dan kelemahan kita di masa lalu. Lakukan secara serius setiap proses perencanaan, Teruslah berupaya melakukan perbaikan hari ini juga tanpa menunda waktu demi kesempurnaan kehidupan di hari esok, karena setiap kita adalah pemenang.

(Hati Yang Berbicara)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × one =