Beranda Maluku Utara LIMAU DOLIK BIMA HAN BATAN: Napak Tilas Perjuangan Muhammad Arif Bila Dalam...

LIMAU DOLIK BIMA HAN BATAN: Napak Tilas Perjuangan Muhammad Arif Bila Dalam Kancah Politik Maluku Kie Raha

471
0
BAGIKAN

Oleh : Irfan Ahmad
(Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya dan Aktif di Pusat Studi Kebudayaan & Pariwisata Universitas Khairun)

Muhammad Arif Bila atau dikenal dengan sebutan Sangaji Tahane merupakan orang kepercayaannya Sultan Saidul Djehat Muhammad El Mabus Amiruddin Sjah Kaicil Paparangan Jou Barakati (Nuku) yang berhasil melawan Verenigde Oost-indische Campagnie, (VOC), Ternate, Ambon, Banda dan sekutu pribuminya yang dipersenjataan lengkap. Namun kerja keras Sultan Nuku yang didampingi Muhammad Arif Bila, bertahan lebih dari 13 tahun. Hingga Nuku berhasil memenangkan pertarungan dan merebut Kesultanan Tidore kembali. Muhammad Arif Bila, terlahir sebagai seorang petani yang tidak berstatus sosial, namun ia mampu bersaing dan mendapatkan gelar sangaji yang biasanya ditugaskan di Makeang, setelah Kerajaan Komalo Besi Limau Dolik takluk pada kesultanan Ternate dan Tidore.

Populasi penduduk semakin berkurang karena sebagian besar telah melakukan “pelarian”. Wilayah penting di Makeang adalah Daori (Tahane) dengan jumlah penduduk sebanyak 250 orang, Waikiong (Ngofakiaha) terdapat 400 orang dan Waigitang (Ngofagita) sebanyak 170 orang. (Andaya, 1993). Semasa Muhammad Arif Bila menjadi sangaji di Tahane (de Clercq, 1890), ia sering berselisih dengan perangkat perangkat Kesultanan Ternate.

Ketidak senangan atas Kesultanan Ternate diawali dengan pengangkatan sangaji di Makeang yang tidak berdasarkan mekanisme. Serta pulau Makeang khususnya wilayah Tahane yang awalnya masuk dalam administrasi Kesultanan Ternate atas ijin VOC diberikan pada Kesultanan Tidore.
Ketidakstabilan dan semakin ruwetnya politik saat itu, ketika Kaicil Gaijira meninggal dan putranya Kaicil Patra Alam dipilih sebagai penggantinya dan diangkat menjadi Sultan Tidore pada 17 Juli 1781 dengan nama Sultan Muhammad Mansur Badaruddin (1781-1780), beberapa hari setelah pengukuhan oleh VOC yang memiliki intervensi penuh atas Kesultanan Tidore mendeklarasikan penangkapan terhadap Sultan Jamaludin, (Sultan Tidore, 1756-1780) dan diasingkan oleh Belanda, (Haga, 1884). Kemarahan Nuku atas tindakan Belanda yang Kesultanan Tidore mendapat dukungan dari jojau, hukum, bobato, gimalaha, ngofamanyira dan 400 orang rakyat Tidore pergi ke Papua. (Andaya, 1993).

Perjumpaan dengan Nuku

Perlawanan Nuku terhadap Belanda dan sekutunya di Maluku terus berlangsung, meskipun pada tahun 1781 Belanda berhasil mengalahkan Nuku dan para pengikutnya dari Gamrange (Maba, Patani, Weda) dipaksa menyerahkan diri dan membuat perjanjian. Meskipun adanya perjanjain Belanda dan Gamrange, Nuku terus bergerak mencari dukungan dan bertemu dengan saudara kandungnya yang telah menjadi Raja Kililuhu (Keffing). Semangat juang Nuku dan terus bergerak untuk menghimpun pasukannya selama 20 tahun lamanya dengan harapan dapat mengambil kembali Kesultanan Tidore dari antek-antek Belanda. Dan pada tahun 1796, Nuku dipertemukan dengan seorang kesatria dari Pulau Makeang yang bergelar Sangaji yang memerintah di Negeri Tahane. Ketika Muhammad Arif Bila diajak untuk bergabung dengan Nuku, ia diberikan jabatan sebagai seorang Jogugu, tunjangan sebesar 150 ringgit setiap bulan dan menerima hadiah 1.000 ringgit. Pihak Ternate yang mendengar kabar tersebut segera mengirimkan utusannya dan menawarkan upah sebesar 100 ringgit selama enam bulan yang awalnya hanya diterima oleh seorang sangaji Tahane sebesar f. 75.

Dari Sangaji Tahane Menjadi Raja Jailolo I

Kecerdasan dalam berdiplomasi politik, menyusun strategi perang, serta keberhasilan dalam menjalankan peperangan di Banda, Seram dan Ambon. Oleh Nuku, Muhammad Arif Bila yang awalnya ditawarkan menempati Jogugu di Kesultanan Tidore. Oleh Nuku rasanya tidak cukup atas apa yang telah diperjuangkan bersama, dengan demikian Nuku mengukuhkan Jogugu Muhammad Arif Bila menjadi Raja Jailolo I dengan nama kebesaran RAJA JAILOLO KAICIL JOUGUGU ALAM, yang saksikan oleh perangkat adat Kesultanan Tidore, para bobato Halmahera Timur (Maba, Patani, Weda) dan beberapa bobato Halmahera Utara, Raja Loloda dan anggota bangsawan Ternate yang melarikan diri ke Tidore. Dukungan ini di-anggapnya telah cukup membuktikan bahwa kududukan Mohammad Arif Bila sebagai Raja Jailolo I adalah sah.
Sejak Kesultanan Jailolo diaktifkan kembali sebagian besar masayrakat Halmahera bagian timur (Gamrange) bergabung dengan Raja Jailolo dan gencar menyerang wilayah Halmahera bagian utara anatar tahun 1803-1805, (Katopo, 1984). Setelah bergabungnya pasukan Tobelo-tai yang dipimpin oleh sangaji Lapas mereka menuju Maba. Pada tahun 1805 Sultan Nuku bersama Raja Jailolo I pernah meminta izin kepada pihak Pemerintah Belanda agar wilayah Maba diakui sebagai kerajaannya untuk menampung para pengikutnya. Akan tetapi, permohonan itu ditolak oleh Gezaghebber yang berada di Ternate, (Lihat surat Sultan Nuku kepada Gezaghebber Goldbach, 11 Juli 1804).
Sejak penolak permohonan tersebut, Raja Jailolo I secepat mungkin mengusung kekuatan melalui armada laut untuk menyerang wilayah-wilayah kesultanan Ternate yaitu Kepulauan Sula (Sulabesi, Magoli, Taliabu), Kepulauan Banggai, selatan Buton dan beberapa wilayah Sulawessi lainnya yang dianggap pro terhadap kesultanan Ternate. Adapun armada laut (armada satu) terdiri dari:
Empat unit armada kora-kora asal Tobelo-tai dipimpin oleh sangaji.
Dua unit armada kora-kora asal Patani dipimpin oleh Kapita Malimbangan dan Faraki.
Tiga unit armada kora-kora asal Maba dipimpin oleh Kapila Laut Mobili.
Armada-armada tersebut dari Maba langsung bergerak menuju wilayah Botun untuk meyerang berbagai perahu dagang dan nelayan sekitar perairan selatan Botun. Setelah penyerangan tersebut, armada-armada laut ini kembali menyerang pulau Kabaena, Selayar, Mangidano (wilayah Tobungku), dan pantai timur Sulawessi. Setelah penyerangan wilayah Tobungku, para armada laut ini bertemu dengan sub-unit armada laut (armada dua) terdiri dari lima unit perahu perang yang dipimpin oleh Kapitan Tobelo Ngongare yang dikirim khusus dari Maba untuk menyerang pulau Taliabu. Kelima armada laut tersebut masing-masing terdiri dari, tiga unit armada kora-kora asal Maba dipimpin oleh Kapitan Ngongare.
Satu unit armada kora-kora asal Patani.
Satu unit armada kora-kora asal Tobelo.
Pasukan tersebut bergerak dari Tobungku menuju Taliabu dipimpin oleh Sangaji Lapas dan Kapitan Tobelo Ngongare. Sementara itu, dua unit armada laut (armada tiga) telah menungguh di perairan wilayah Taliabu terdiri dari dua kora-kora dari Loloda yang dipimpin oleh Kapitan Arifu dan Kapitan Hadasi. Menjelang beberapa hari setelah penyerangan di Taliabu, berdatangan armada laut (armada empat) yang dipimpin oleh Muhammad Asgar (Jou Kimelaha) terdiri dari dua puluh kora-kora dari Tobelo dan empat kora-kora dari Papua. Dua puluh empat kora-kora tersebut bertolak dari Kepulauan Raja Empat menuju Taliabu. sebelum tiba di pulau Taliabu armada laut tersebut sempat menyerang wilayah pantai pesisir Seram, pulau Buru dan beberapa negeri hingga armada tersebut sampai di pulau Taliabu dan bergabung dengan ketiga armada lainya, (Valentjn, 1724).

Keluarga Muhammad Arif Bila

Sangaji Tahane Mohammad Arif Bila, memiliki empat orang anak dari perkawinannya dengan seorang wanita berasal dari Tahane sebelum ia pindah ke Tidore. Putra yang pertama bernama Sugi, Hajuddin, Niru dan seorang putri yang dikenal dengan nama Jofira. Selain itu Raja Jailolo I menikah paling kurang dua kali lagi di Tidore. Pernikahan pertama adalah dengan seorang putri Kerajaan Bacan yang nama Boki (sebutan untuk putri raja). Dari perkawinan ini ia mendapat dua anak. Selain itu ia menikah pula dengan putri seorang imam di Tidore yang bernama Aminah dan mendapat seorang putra yang bernama Abdulgani. Dari antara putra-putranya dari perkawinan kedua dan ketiga tidak ada yang menyandang gelar Raja Jailolo. (R. Z. Leirissa, 1996)
Gelar Raja Jailolo hanya digunakan oleh anak-anak dari istri pertama yang berasal dari Tanahe yaitu Kimelaha Sugi alias Jou Kimelaha menggunakan nama Mohammad Asgar adalah Raja Jailolo II. Pada tahun 1818 Mohammad Asgar atau Raja Jailolo II, dibuang ke Jepara. Menurut dokumen-dokumen Belanda ia menamakan dirinya sebagai Hajuddin, yang oleh anggota keluarganya disingkat menjadi “Haji” (bukan karena ia telah menunaikan ibadah haji). Hal tersebut menunjukkan statusnya sebagai bangsawan sekaligus rohaniwan. Setelah Raja Jailolo II, dibuang ke Jepara. Maka dikukuhkanlah Hajuddin sebagai Raja Jailolo III. Sebagai Raja Jailolo III (1818/1819 sampai 1825) ia menyebut dirinya sebagai “Sultan seluruh Jailolo” dengan nama kebesaran Syaifuddin Jehad Mohammad Hajuddin Syah dengan kedudukan di negeri Kobi dan kemudian di negeri Waru dan akhirnya di Hatiling (semuanya negeri-negeri di Seram Pasir) yang juga pernah digunakan Nuku sebagai markasnya, (Besluit, 1824).
Peranan yang nyata dari Raja Jaillo I sejak diangkat oleh Nuku adalah semata-mata sebagai pemimpin armada yang bertugas menduduki Halmahera. Juga putra-putranya seperti Asger, Niru, dan Hajuddin, terkenal sebagai pemimpin armada. Demikian pula ketika dua di antara mereka (Asgar dan Hajuddin) menyandang gelar Raja Jailolo secara bergiliran setelah ayahnya meninggal, wujud nyata dari kekuasaan mereka yang muncul dalam sumber sejarah menunjukkan dominannya peran sebagai pemimpin armada. (R. Z. Leirissa, 1996)

Wafatnya Muhammad Arif Bila

Setelah Wafatnya Sultan Nuku 1805, Raja Jailolo I mencoba untuk meperoleh Tidore dari campur tangan Belanda. Raja Jailolo I dan pengikutnya dari Halmahera (sebagian warga Tobelo, Morotai dan Kao), Halmahera Timur (Gamrange), Seram Utara dan Timur, dan Mindanao, Kepulauan Sulu, Kepulauan Raja Ampat, Obi, Seram Utara dan Timur. Mereka datang dan bergabung lebih karena ketertarikan mereka dengan perdagangan “bebas” tanpa campur tangan pihak Ternate dan Belanda. (Fraassen, 1987).
Pada bulan November 1806 ketika Wieling menyerang Tidore dan membakar negeri Soasio. Raja Jailolo I terpaksa mundur dengan persenjataan seadanya ketimbang Belanda dan sekutunya. Raja Jailolo I bersama keluarganya berdiam di rumah sangaji Weda, Singa. Akan tetapi, ketika Belanda mengirim pasukannya untuk menangkapnya pada bulan Mei 1807, ia terpaksa melarikan diri bersama sejumlah pengikut dan selir-selirnya (ngofa bira) di daerah pegunungan di distrik Weda. Kapitan Laut Weda, Lukman, kemudian menerima kabar dari orang-orang Makeang yang menjadi pengiringnya ketika itu, bahwa di bulan itu pula ia meninggal karena tergelincir ke dalam jurang. Menurut keterangan dua orang Halmahera, yang nama-namanya dicatat sebagai “Juga” dan “Letenan”, serta para sehr tersebut, mayatnya ketika itu hanya sempat dibungkus dengan daun oleh beberapa pengikutnya serta para istrinya, yang juga melaporkan hal itu di Ternate mereka tertangkap di tahun itu juga. (R. Z. Leirissa, 1996: lihat juga TAG, Jilid 29, 1912).
Peran Muhahammad Arif Bila sebagai sangaji untuk Kesultanan Ternate, Jogugu di Kesultanan Tidore sampai menjadi Raja Jailolo I, sumbernya sangat berlimpah yang tersimpan di Arsip Nasional Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional (PERPUSNAS), dan Perpustakaan Rumpius. Sayangnya tidak ada penulisan sejarah biografi Muhammad Arif Bila yang bergelar sebagai Raja Jailolo I, sehingga keterangan anak cucu Muhammad Arif Bila sejauh ini hanya berkutat terutama terbatas pada Kimelaha Sugi (Raja Jailolo II) dan Hajuddin (Raja Jailolo III). Keterangan-keterangan itu kebetulan tersimpan karena kedua tokoh itu bersama keluarga dan pengikut mereka pada 1818 dibuang ke Jepara dan pada 1832 dibuang ke Cianjur. Dengan demikian banyak dokument yang tersimpan demi kepentingan administrasi Pemerintah Belanda.

Festival Limua Dolik

Festival Limau Dolik (FLD) oleh “Kapita Tahane” (Komunitas Pemuda-Pemudi Tahane) yang berlangsung pada tanggal, 30-31 Desember 2017 di Desa Daori (Makeang Pualau), Kabupaten Halmahera Selatan. Dalam FLD ini “Kapita Tahane” menjadikan Muhammad Arif Bila sebagai simbol perekat masyarakat Tahane dan menjadi spirit bagi generasi muda. Harapannya dengan adanya FLD tersebut, brandingnya harus jelas dan memiliki target dan sasaran kedepan seperti apa, karena FLD ini bukan saja melibatkan masyarakat Makeang Tahane, melainkan masayarakat Maluku Utara pada umumnya, meskipun tujuan utama adalah “silaturahmi dan merangkul masyarakat Tahane” yang hidup berpencar di wilayah Maluku Utara. Dengan demikian, besar harap event ini adalah betul-betul murni dan sesuai harapan tanpa adanya “penumpang gelap” yang memanfaatkan hajatan tersebut demi kepentingan politik lokal yang akan berlangsung tahun depan.
Kalaupun benar ada niat baik dari “Kapita Tahane” yang mau melangsungkan FLD sebagai agenda tahunan. Kedepan ada diskusi konsep, gagasan, baik teknis maupun substansi, dimatangkan. Para stakeholders dirangkul, diajak bertukar pandangan dan wawasan. Jika FLD kedepan benar-benar bisa diwujudkan, pemerintah dan masyarakat Halmahera Selatan boleh berharap banyak. Dampak ikutan, terutama di bidang pariwisata, semoga bisa dituai. Kita tahu, potensi wisata sejarah, budaya, dan alam daerah ini melimpah. Paling akhir, tentu saja diharapkan dampak ekonomi bagi masyarakat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

two × 1 =