Beranda Maluku Utara Cokaiba Bukti Kebudayaan Masuknya Islam di Bumi Fogogoru

Cokaiba Bukti Kebudayaan Masuknya Islam di Bumi Fogogoru

263
0
BAGIKAN
Tarian Cokaiba warisan leluhur yang dijaga anak cucu

TERNATE – Maluku yang dikenal dengan sebutan Jazirah Al-Mulk (Kepulauan Raja-raja) adalah sebuah negeri di timur Indonesia yang pada masanya sangat berpengaruh dengan empat kerajaan yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan.

Daerah dari 27 suku dan 36 ragam bahasa daerah yang diapit oleh gugusan pulau sebanyak 395 dan  331 pulaunya belum berpenghuni. Di sanalah lahir berbagai kebudayaan yang sampai saat ini masih tetap dijaga oleh masing-masing suku.

Terlepas dari itu, salah satunya adalah tradisi Mef atau yang biasa dikenal  saat ini dengan sebutan Cokaiba. Tradisi ini merupakan ritual Maulur (Maulid Nabi) yakni tradisi asli dari tiga negeri bersaudara yakni Maba, Patani, Weda yang lebih dikenal dengan sebutan Bumi Fagogoru.  Setelah pemekaran kabupaten, tiga negeri ini di bagi menjadi Dua daerah otonom.

Negeri Obon  (Maba) menjadi Kabupaten Halmaheha Timur. Negeri Foton  (Patani) dan Negeri Wereng (Weda) menjadi Kabupaten Halmahera Tengah.

“Menurut tuturan sejarah lisan tradisi dan ritual, Cokaiba mulai dilakukan pada zaman Rajaman. Pada periode awal masuknya Agama Islam dipesisir Bumi Fogogoru sekitar tahun 1100 Masehi lalu. Rajaman  (pemimpin atau raja) Rajaman Satrio penguasa di Maba, Rajaman Kasuro penguasa di Patani dan Rajaman Suta Raja Mauraja penguasa di Weda.” (Sumber; Naskah Buku Mef Nama Asli Cokaiba Abd, Samad Addin)

Keunikan Cokaiba

Dikisahkan, dalam menjalankan dakwa Islam mereka mendatangi penduduk. Untuk mendengar cerita-cerita dan keadaan mereka sebelum agama Islam datang di wilayah ini. Lalu para leluhur menceritakan keadaan mereka selama ini.

Bahwa mereka mempunyai kemampuan berinteraksi dengan bangsa jin, yang sudah terjalin sejak jaman dahulu dan hubungan ini mulai dibatasi dan sejak kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan semenjak turunnya Al Qur’an Surat Al Ikhlas atau dalam bahasa Maba di sebut Kulluhu, maka hubungan interaksi mulai terputus.

Mereka meyakini persahabatan sudah tidak mungkin terjalin seperti dulu lagi. Akan tetapi mereka masih merasa rindu dengan persahabatan ini dan ingin berbagi
kebahagian dalam Islam dengan sahabat bangsa jin mereka. Maka ketiga pemimpin inipun berembuk, untuk mencari solusi terbaik.

Akhirnya muncul solusi yang bijak, yaitu kepada semua gelet, suku, marga, agar
membuat Mef atau topeng dari dodadi mereka sesuai karakter yang mereka tahu.

Cokaiba yang sarat makna

Tapi dengan syarat bukan untuk pemujaan tetapi hanya dipakai pada saat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Karena pada dasarnya kehadiran Nabi Muhammad SAW, adalah sebagai rahmat bagi alam semesta. Keputusan itu di sambut leluhur Maba–Patani–Weda dengan gembira. Karena budaya Mef atau topeng ini sudah menjadi kebiasaan mereka ketika pergi berburu maupun berperang.

Semenjak itu tradisi ritual Cokaiba mulai dilakukan setiap tahun. Sebagai satu tradisi adat budaya dan peradaban dari bumi Fagogoru.

Tradisi ini menceritakan tentang hebatnya sebuah persahabatan dalam semangat perubahan zaman, bahkan dalam pelaksanaanyapun dikenal dengan bahasa dan tradisi Fanten atau Faton atau Faklao yang maksudnya juga sama dengan hakekat awal tradisi ini yaitu persahabatan.

“Untuk menjaga tradisi ini tetap terjaga bahkan saat ini tidak selalu menunggu waktu Maulid saja baru di pentaskan, akan tetapi jika ada perhelatan acara sering kali kami tetap menyempatkan waktu  untuk lebih mengenalkan budaya kami”, ujar Kamalludin Jalaluddin, salah satu pelatih Tarian Cokaiba saat ditemui usai pementasan Cokaiba  pada saat deklarasi pasangan calon (paslon) Gubernur Maluku Utara (Malut)  Burhan Abdurahman dan Ishak Jamludin (Bur-Jadi). (HT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 × four =