Beranda Maluku Utara Dolik dan Kerajaan Pertama di Maluku Utara

Dolik dan Kerajaan Pertama di Maluku Utara

626
0
BAGIKAN
Sultan Tidore saat menghadiri Festival Limau Dolik

HALSEL – Bertempat di lapangan Bukit Tinggi, Desa Tahane, Kecamatan Makeang Pulau,Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Sabtu (30/12/17), Sultan Tidore, Husain Syah secara resmi membuka perhelatan Festival Limau Dolik.

Sultan berharap “Festival Limau Dolik menjadi salah satu festival tahunan dengan membangkitkan budaya dan sejarah Dolik. Sultan juga berharap agar pengurus Kapita Tahane, melaksanakan napak tilas perjalanan Muhammad Arif Billah, seorang Sangaji Tahane yang mendampingi Sultan Tidore berperang”, harap Sultan.

Sultan juga mengakui bahwa, Muhammad Arif Billah adalah Sultan Jailolo yg diangkat oleh Sultan Nuku, pada saat terjadi kekosongan Sultan di Kerajaan Jailolo.

Sementara itu, Ketua Penasehat Kapita Tahane, Munawar Hi Ahmad yang juga seorang sejarawan, menceritakan asal mula berdirinya 4 Kerajaan di Maluku Utara, terlebih dahalu berdirinya kerjaan besar yakni Kerajaan Dolik.

“Dolik merupakan salah satu kota besar, yang menghasilkan 4 Kerajaan di Maluku Utara, yakni Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan”, ceritanya.

Lanjut Haji Munawar, “Pada abad ke 11 tahun 1077 Masehi, datang seorang ulama dari tanah persia Baghdat ke desa Daory yaitu Syeh Noh Jafar Sadik untuk menyiarkan agama islam kepada Raja Barbara dan rakyatnya”.

“Kapita Barbara memiliki seorang istri yang berasal dari Maba, mereka tinggal di Daory sampai memiliki keturunan, Raja Barbara memiliki lima orang anak, empat orang laki-laki dan satu orang perempuan”.

Anak pertama Raja Barbara memiliki nama Besi Matali, anak ke dua bernama Patiakan, ketiga bernama Tataulo, anak ke empat bernama Umhukum atau Umahuk dan yang ke lima bernama Boki Manuru.

Anak kelima Raja Barbara, Boki Manuru lantas menikah dengan Syeh Noh Jafar Sadik dan melahirkan lagi lima orang anak.

Anak pertama Noh Jafar Sadik adalah, Muhammad Bakir yang merupakan Sultan Makeang yang sekarang menjadi sultan Bacan, Anak Kedua Muhammad Takis yang merupakan Sultan Moti yang sekarang menjadi Sultan Jailolo, Anak Ketiga Muhammad Takir menjadi Sultan Tidore, dan anak keempat seorang perempuan yang menikah dengan Sultan Makasar atau Raja Goa Provinsi Sulawesi Selatan dan anak kelima Muhammad Nafis menjadi sultan Ternate.

Haji Munawar berharap cerita sejarah ini bisa di buka ke publik agar awal sejarah agar semua pihak bisa terbuka, jujur iklas untuk mengatakan yang sebenarnya, dan menempatkan sejarah yang sebenarnya sehingga jangan mmembuat generasi keliru dengan sejarah.

Haji Munawar yang juga Ketua Dewan Penasehat Kapita Tahane ini, juga berharap kepada Sultan Tidore untuk menyatukan empat kesultanan di Maluku Utara ini adalah yang benar-benar keturunan Sultan yang menduduki tahta kerajaan.

Untuk itu kami masyarakat Daory atau masyarakat Tahane mengharapakan kedepan sejarah-sejarah tersebut bisa diceritakan dengan sebenarnya sehingga tidak hilang dari anak cucu kita.

Tambah Haji Munawar, Kami tidak ada tujuan lain atau tidak ada niat mencampuri rumah tangga kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, tapi kami hanya menuntut untuk meluruskan sejarah, karena apa yang ditinggalkan kepada kami sebagai panglima perang hanya menjaga, merawat dan meluruskan sejarah. (HI)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

eleven + 6 =