Beranda Maluku Utara Tentang Ternate Harmoni, Gerbang menuju Festival Internasional

Tentang Ternate Harmoni, Gerbang menuju Festival Internasional

267
0
BAGIKAN
Penari dengan pesona yang memikat di Parade Ternate Harmoni

TERNATE – Pulau di gugusan Moloku Kieraha nama awal Provinsi Maluku Utara saat ini, adalah sumber cengkeh dunia yang melegenda. Hingga terjadilah jalur perdagangan Internasional di masa lampau, baik pedagang dari India, Arab, Tiongkok dan Jawa sering berkunjung ke Ternate, bahkan sebagian dari mereka, memilih menetap dan membangun perkampungan, yang menjadi pusat rempah-rempah dunia.

Masyarakatnya pun hidup berdampingan antar umat beragama, bisa di lihat di Ternate ada beberapa kampung yang justru masih tetap ada, dan penamaannya berdasarkan suku atau daerah, seperti Kampung Cina, Kampung Arap, kampung Jawa, kampung Sarani.

“Bisa di telusuri sumber sejarahnya, kerukunan antar umat beragama, kerukunan antar etnis, sudah dipelihara sejak zaman dahulu,” kata Wali Kota Ternate H. Burhan Abdurahman.

Berangkat dari situlah pemerintah Kota Ternate, melalui Hari Jadi Ternate (HJT) ke-768 mencoba mengangkat festival yang lebih bernuansa religi, sesuai dengan kejayaan Maluku Utara dengan Tema Ternate Harmoni.

Menariknya kegiatan ini mengalihkan perhatian warga. Warga seketika berdiri disetiap sudut jalan, menikmati jalannya parade, canda tawa terlukis di setiap bibir anak-anak maupun orang tua yang menyaksikan parade tersebut.

Kehidupan harmonis yang dulu sempat terpecah karena perang saudara di tahun 1999, kini telah kembali berubah. Dengan hadirnya kegiatan yang melibatkan seluruh umat beragama, dan juga etnis yang ada di Kota Ternate.

Ditandai dengan longmarch yang di mulai dari Kantor Walikota Ternate, kemudian menuju ke Gereja Batu, dilanjutkan ke Gereja Ayam, setelah itu menuju ke Klenteng Thian Hou Kiong, dan di tutup di Masjid Kesultanan Ternate. Parade ini berjalan meriah, disetiap persinggahan disuguhkan tarian-tarian daerah, maupun cendramata dari masing-masing Tokoh Agama kepada Walikota Ternate.

Kemeriahan di parade Ternate Harmoni

“Kita berharap melalui festival ini selain menjadikan sebagai satu ikon pariwisata religi di Ternate, juga bisa mengangkat kerukunan kebersamaan dalam rangka mempersatukan seluruh warga kota Ternate yang majemuk,”ujar Wali Kota  saat di temui media, Selasa (18/12).

Masih menurut Walikota, merujuk pada kerukunan beragama dan etnis, adalah modal besar membangun Ternate lebih baik, menjadi kota yang damai, nyaman, dan layak huni sehingga seluruh rakyat bisa hidup berdampingan dan juga kesejahteraan mereka lebih baik.

“Kedepan kita akan desain yang lebih baik lagi menjadikan festival tahunan kota Ternate, yang bertaraf internasional,” tambah pria yang juga menjabat Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Malut.

Para penari di parade Ternate Harmoni

Alasan utamanya mengapa festival ini bisa jadi festival internasional dikarenakan, jalur yang dilalui sebelumnya, merupakan tempat-tempat yang memiliki sejarah yang kuat, misalnya Gereja Batu di bangun pada tahun 1602 oleh Portugis, Klenteng Thian Hou Kiong yang di bangun sekitar 400 tahun silam, dan telah melewati dua masa penjajahan, juga Masjid Kesultanan dan Masjid Arab juga memiliki catatan sejarah tak terlupakan.

“Hal ini kita akan kelola lebih baik sehingga mungkin juga orang portugis akan datang ke sini demikian juga itu juga kita akan kolaborasi menjadi sesuatu yang baik,” ujarnya.

Air Sarabati Minuman Para Sultan

Terpisah, ketua Panitia HJT Sutopo Abdullah saat di temui, menjelaskan bahwa dalam setiap persinggahan yang dilakukan oleh peserta Harmoni Ternate, juga disuguhkan minuman para sultan atau Air Sarabati yang diracik dan biasa diminum oleh para sultan pada masa lampau.

Suguhan Air Sarabati, minuman khas para sultan

“Untuk masa saat ini Air Sarabati, disuguhkan sebagai simbol keberagaman hidup harmoni di Ternate,” ujar Sutopo.

Masih menurutnya, bahan utama minuman ini terbuat dari rempah-rempah yang mudah di dapat dan  tumbuh di Maluku Utara khususnya di Ternate, yakni pala, cengkeh, gula merah (Gula Aren) dan kayu manis kemudian di campur jadi satu.

“Minuman ini juga disuguhkan dalam tradisi Taji Besi untuk meningkatkan stamina,” tutur pria yang saat ini menjabat Sekretaris TPID Kota Ternate.

Kegiatan ini ditutup dengan penandatanganan kesepakatan kehidupan keragama, yang diwakilkan oleh masing-masing tokoh agama juga Wali Kota Ternate. (HT)