Beranda Maluku Utara Wujudkan Warga Ternate Bebas DBD

Wujudkan Warga Ternate Bebas DBD

188
0
BAGIKAN
Penulis.

Penulis : Jecica Claudia Senaen
Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

Kota Ternate merupakan salah satu pulau yang terletak di Provinsi Maluku Utara dengan luas wilayah sebesar 111,39 km2. Jumlah kecamatan dalam wilayah kota Ternate adalah 7 kecamatan dan 77 desa dan kelurahan. Ketujuh kecamatan tersebut yaitu kota Ternate Selatan, kota Ternate Tengah, kota Ternate Utara, Moti, Pulau Batang Dua, pulau Hiri, dan pulau Ternate.

Jumlah penduduk kota Ternate pada tahun 2017 berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik kota Ternate sebanyak 223.111 Jiwa dimana penduduk laki-laki sebanyak 113.334 jiwa dan perempuan sebanyak 109.777 Jiwa dengan rasio jenis kelamin 103.

Ternate terletak antara 126o – 128o BT serta 0o – 2o BT LU, dengan ketinggian rata-rata dari permukaan laut yang beragam dan dikelompokan dalam 3 kategori, yaitu Rendah (0 – 499 M), Sedang (500-699 M), Tinggi (lebih dari 700 M). Luas wilayah Kota Ternate adalah 5.795,4 Km2 dan lebih didominasi oleh wilayah laut (5.633,34 Km2) sedangkan luas daratan 162,06 Km2.

Disetiap wilayah kota Ternate memiliki kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kejadian kasus-kasus penyakit berbasis lingkungan seperti Malaria, Leptospirosis dan Demam Berdarah Dangue (DBD).

Demam berdarah danguen (DBD) merupakan salah satu penyakit yang masih perlu ditangani dan yang menjadi permasalahan ditengah-tengah masyarakat kota Ternate yang masih membutuhkan penanganan serius dari Dinas Kesehatan kota Ternate dan penyakit ini meningkat dalam beberapa bulan terakhir ini.

Demam berdarah dangue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh inveksi virus dangue yang di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes agypti dan Aedes albopictus yang biasanya (dominannya) hidup di daerah tropis maupun subtropis seperti di Indonesia.

Munculnya kejadian DBD dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, di antaranya agen (virus dengue), inang yang rentan serta lingkungan yang memungkinan tumbuh dan berkembang biaknya nyamuk Aedes spp.

Nyamuk ini berpotensi untuk menularkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). DBD adalah suatu penyakit yang ditandai dengan demam mendadak, perdarahan baik di kulit maupun di bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan syok dan kematian.

Penyakit DBD ini terutama menyerang anak-anak termasuk bayi, meskipun sekarang proporsi penderita dewasa meningkat. Penularan penyakit DBD pada dasarnya terjadi karena adanya penderita maupun pembawa virus dengue, nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor dan masyarakat sebagai sasarannya.

Aedes aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sangat sulit karena mereka memiliki kemampuan adaptasi lingkungan yang membuat mereka sangat tangguh, bahkan setelah gangguan akibat fenomena alam atau intervensi manusia. Di sisi lain, penggunaan insektisida sintetik sangat efektif untuk membunuh larva nyamuk.

Namun, penggunaannya secara kontinyu dapat menyebabkan dampak negatif seperti polusi lingkungan, serangga menjadi resisten, resurgen maupun toleran terhadap pestisida.

Penyakit DBD melibatkan 3 organisme yaitu : Virus Dengue, nyamuk Aedes, dan pejamu manusia. secara alamiah ketiga keompok organisme tersebut secara individu atau kelompok organisme tersebut secara individu atau populasi dipengaruhi oleh sejumlah faktor lingkungan biologik dan lingkungan fisik. Pola perilaku dan status ekologi dari ketiga kelompok organisme tadi dalam ruang dan waktu saling berkaitan dan saling membutuhkan, menyebabkan penyakit DBD berbeda derajat endemisnya pada suatu lokasi ke lokasi yang lain.

Tempat perindukan sementara terdiri dari berbagai macam tempat penampungan air (TPA) termasuk : kaleng bekas, ban mobil bekas, pecahan botol, pecahan gelas, talang air, vas bunga, dan tempat yang dapat menampung genangan air bersih. Tempat perindukan permanen adalah TPA untuk keperluan rumah tangga seperti bak penampungan air, reservoir air, bak mandi, gentong air dan bak cuci di kamar mandi.

Tempat perindukan alamiah berupa genangan air pada pohon seperti pohon pisang, pohon kelapa, pohon aren, potongan pohon bambu, dan lubang pohon.

Pertambahan penduduk dan urbanisasi mengakibatkan kebutuhan air meningkat, sehingga mengakibatkan upaya menampung air bertambah pula. Akibatnya meningkatkan kemungkinan tempat perindukan nyamuk.

Begitu juga berkembangnya pembangunan dan perindustrian mengakibatkan barang industri seperti mobil dan barang-barang keperluan rumah tangga seperti plastik maupun gelas bertambah. Bertambah tingginya produksi barang-barang tersebut, mengakibatkan bertambahnya barang-barang buangan seperti ban bekas, kaleng, pecahan gelas dan plastik. Barang bekas tersebut semuanya memberi peluang bertambahnya tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.

Lingkungan biologik yang mempengaruhi penularan penyakit DBD terutama adalah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah dan halamannya.

Bila banyak tanaman hias dan tanaman pekarangan, berarti akan menambah tempat yang disenangi nyamuk untuk hinggap istirahat dan juga menambah umur nyamuk.

Pengendalian DBD ditekankan pada pengendalian vektor untuk memutus rantai penularan. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu melalui pengendalian habitat larva pada kontainer air. Keberadaan larva pada kontainer air merupakan cara mengestimasi kepadatan populasi nyamuk Aedes sp. dan salah satu faktor risiko penularan DBD.

Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) pada dasarnya, untuk memberantas jentik atau mencegah agar nyamuk tidak dapat berkembang biak. Mengingat Aedes aegypti tersebar luas, maka pemberantasannya perlu peran aktif masyarakat khususnya untuk memberantas jentik Aedes aegypti di rumah dan lingkungannya masing-masing.

Cara ini adalah suatu cara yang paling efektif dilaksanakan karena:
a. Tidak memerlukan biaya yang besar;
b. Bisa dilombakan untuk menjadi daerah yang terbersih.
c. Menjadikan lingkungan bersih.
d. Budaya bangsa Indonesia yang senang hidup bergotong royong.
e. Dengan lingkungan yang bersih, tidak mustahil penyakit lain yang diakibatkan oleh lingkungan yang kotor akan berkurang.

Dengan demikian langkah penting dalam upaya pemberantasan DBD melalui upaya PSN ialah memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang intensif. Pokok-pokok pesan penyuluhan yang disampaikan meliputi pengenalan tanda-tanda, gejala-gejala DBD, dan cara pencegahan penularannya di rumah dan lingkungan masing-masing yang disesuaikan dengan pendidikan yang mereka miliki.

Sarana yang digunakan bisa melalui pengajian, pertemuan warga, sedangkan penyuluhan massal bisa dilakukan melalui media massa seperti TV, radio, majalah dan surat kabar dan juga adanya kerjasama dari berbagai pihak untuk kota Ternate bebas DBD.