Beranda Halmahera Selatan Kisah Aswar yang Kehilangan Anak Tercinta Akibat Gempa Magnitudo 7.2  yang Menguncang...

Kisah Aswar yang Kehilangan Anak Tercinta Akibat Gempa Magnitudo 7.2  yang Menguncang Kabupaten Halmahera Selatan

717
0
BAGIKAN
Aswar Mukmat (56) berada di tenda pengungsian, Desa Gane Dalam, Kecamatan Gane Barat Selatan Kabupaten Halmahera Selatan.

Peliput : Sahril Samad

HALMAHERA SELATAN – Senin (15/7/19), siang sekitar arah jam menunjukkan pukul 15.34 Wit. Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Tagana, PMI dan Pers, mendaratkan speedboatnya di Desa Gane Dalam, Kecamatan Gane Barat Selatan, pasca gempa bumi menguncang wilayah Kabupaten Halmahera Selatan, Minggu (14/7/19).

Terlihat jelas dari kejauhan reruntuhan bangunan yang diporak-porandakan oleh gempa berkekuatan magnitudo 7.2. Tim gabungan datang, membawa sejumlah bantuan untuk warga, yang terdampak gempa.

Terlihat dengan jelas diatas sebuah bukit , tenda pengungsi yang berjejer di lapangan bola kaki. Usai gempa, warga memang memilih tempat aman yang berada di ketinggian.

Anak-anak dan ibu hamil serta lansia, berada di tenda-tenda pengungsian. Tampak jelas, para korban gempa ini masih trauma dengan guncangan gempa yang memporak-porandakan rumah mereka.

Wartawan, GamalamaNews.com, menghampiri salah satu tenda, berukuran kurang lebih 3 x 4 meter, disana ada sebuah ranjang dan kasur yang begitu rapi, beralas seprei berwarna putih, tanda ada anggota keluarga yang baru saja meninggal dunia.

Kami lalu menghampiri keluarga yang sedang berduka dan berbagi kisah terkait gempa bumi yang melanda desa Gane Dalam, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa.

Sang Ayah, bernama Aswar Mukmat (56), jelas terlihat duka yang tersirat dari tatapannya, namun ia dengan tenang menjawab semua obrolan kami. Aswar pria paruh baya itu, menceritakan satu persatu, mulai dari kepanikan warga, hingga proses penyelamatan yang dilakukan anaknya Asfar Mukmat (21), kepada anggota keluarganya hingga ia tertimpa reruntuhan bangunan rumahnya.

“Saat itu kita semua panik, lari berhamburan ke gunung, namun anak saya (Asfar) masih kembali dan menyelamatkan kakeknya serta kedua adiknya, hingga dia tertimpa bangunan rumah kami,” kisahnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Masih cerita sang Ayah, Almarhum, kala itu, sudah menuju ke daratan yang tinggi, namun karena mendengar teriakan adik dan kakeknya, ia kembali dan menyelamatkan kedua adiknya serta kakeknya.

“Kedua adiknya sekarang luka berat, lengan kakinya patah dan tertusuk besi di paha kanan, keduanya sudah mendapat perawatan medis setempat,” kata sang ayah.

Tak sampai disini, Almarhum, masih sempat memaksakan diri untuk keluar dari reruntuhan, dan dijemput oleh bapaknya, mereka mencari tempat aman untuk berlindung, hanya saja Asfar menghembuskan nafas terakhir di lokasi pengungsian.

“Saya masih mengendongnya dan melarikannya ke daerah ketinggian di lokasi pengungsi, kemudian dia menghembuskan napasnya yang terakhir sekitar pukul 21.00 Wit,” terang Aswar, sembari menghapus airmatanya.