Beranda Maluku Utara Tanaman Asli Maluku Utara, jadi Unggulan Indonesia

Tanaman Asli Maluku Utara, jadi Unggulan Indonesia

5865
0
BAGIKAN

TERNATE – Satu lagi komoditi asli Provinsi Maluku Utara yang menjadi primadona saat ini, pohon kelapa yang jenisnya hanya ada di Maluku Utara tepatnya di kabupaten Pulau Morotai, yakni kelapa Bido yang berasal dari Desa Bido yang kini bahkan menjadi unggulan Indonesia.

Secara nasional jenis kelapa Bido saat ini menjadi unggulan Indonesia. Hal itu berlaku setelah pelepasan atau pengukuhan di Bogor pada tanggal 21 April 2017 kemarin. Bahkan hingga saat ini,  kelapa yang berasal dari Desa Bido, Kabupaten Morotai tersebut, sangat digemari di negara-negara tetangga dan juga negara Eropa. Saat ini Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai mencanangkan untuk melakukan pembibitan jenis tanaman kelapa tersebut.

Keunikan atau keunggulan jenis kelapa tersebut yaitu merupakan kelapa dalam, tetapi lebih cenderung seperti kelapa genja dan hibrida. Bisa dikatakan demikian sebab kelapa Bido merupakan kelapa dalam yang pertumbuhan tinggi atau batangnya sangat lambat. Pada usia 20 tahun, jenis kelapa tersebut masih sangat mudah untuk dipetik. Jika dibandingkan dengan kelapa hibrida sangat berbeda, karena kelapa hibrida pada usia 20 sampai 25 tahun sudah tidak produktif.

“Kelapa bido pada usia 20 tahun masih sangat produktif dan masih sangat mudah untuk dipetik. Sebab diumur tersebut pohonnya masih cukup pendek. Ukuran pendek kelapa membuat kelapa jenis ini mudah di petik tanpa alat bantu. Sedangkan diumur 60 tahun, tinggi kelapa Bido baru dikisaran 6 sampai 8 meter dan masih sangat produktif,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pulau Morotai, Muslim Jumati, saat ditemui di Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Senin (23/10).

Menurut Muslim, untuk jenis kelapa hibrida yang lainnya,  pohonnya cepat mengalami pertumbuhan atau cepat tinggi, dan produktifitasnya paling lama mencapai 25 tahun. Sedangkan kelapa Bido, pada usia 70 sampai 80 tahun masih produktif dan untuk ukuran buahnya juga cukup besar. Selain itu,  diantara jenis kelapa lain, kelapa Bido juga cepat berbuah diusia 2,5 tahun meski tinggi kelapa tersebut kurang lebih 1 meter.

Dia juga menambahkan, “Namun Bido juga seperti jenis kelapa yang lain, pada awal berbuah kepadatan buahnya juga sangat berkurang. Namun jika telah memasuki tahun ke 2 dan ketiga atau biasa disebut masa yang stabil,  kelapa Bido bisa menghasilkan 14 tandan. Hebatnya lagi, dalam satu tandan, kelapa Bido bisa mencapai 9-14 buah kelapa
pertandannya.
Sedangkan jika dibandingkan dengan jenis kelapa dalam yang lain,  sekali produksi dalam satu hektar hanya mencapai 1,2 sampai 1,5 ton. Namun untuk bido sekali produksi bisa mencapai 3 sampai 4 ton.

“Bahkan saat ini untuk membeli buah kelapa Bido harus lakukan pemesanan terlebih dulu,  jika tidak maka tidak akan kebagian. Sebab bukan hanya masyarakat Malut yang sedang meminati kelapa Bido. Selain berbuah lebat, kelapa Bido ini memiliki ukuran buah yang cukup besar,  hingga kandungan air yang berada di dalam buah bisa mencapai 800 hingga 1.200 mili liter. Dengan ketebalan daging mencapai 1,2 sampai 1,5 cm,” ungkapnya.

Muslim mengaku,  untuk saat ini pengembangan kelapa Bido masing-masing petani atau masyarakat dibebaskan untuk mengembangkan kelapa Bido. Sedangkan untuk dijadikan kebun induk oleh Dinas Pertanian sendiri, saat ini dikembangkan di atas lahan sekitar 5 sampai 10 hektar, bahkan ada petani lain yang melakukan penanaman pohon kelapa tersebut 1-2 hektar. Karena minat masyarakat akan kelapa Bido ini sangat tinggi dan dianggap meningkatkan ekonomi masyarakat, saat ini difokuskan juga pada pembibitan atau sumber benih terhadap jenis pohon kelapa tersebut.

Otomatis, produksi kopra ataupun produksi yang lain saat ini dihentikan, dan buahnya dikumpulkan untuk dijadikan bibit. Diharapkan beberapa tahun kedepan pembibitan ini masih terus berlanjut, dengan target kelapa Bido ini dapat memenuhi permintaan secara nasional. “Bahkan jika berbuah pada 2,5 tahun,  maka pada 5 sampai 7 tahun kedepan berarti pembibitan kelapa Bido di Morotai sudah semakin banyak. (HT)