Beranda Halmahera Barat Catatan Jurnalis Tentang WIFT 2017

Catatan Jurnalis Tentang WIFT 2017

444
0
BAGIKAN

HALSEL – Dingin angin malam, begitu terasa di Rabu dinihari tanggal 25 Oktober. Saya dan rekan-rekan jurnalis media Online dan Kontributor Televisi (Tv) baik swasta dan nasional, menumpang Kapal Halsel Expres dari pelabuhan Ahmad Yani, kota Ternate menuju pelabuhan Babang Kabupaten Halmahera Selatan.

Tidak hanya kami para jurnalis yang menumpangi kapal Halsel Exspres saat itu, tapi ada juga anggota organisasi Orari Kota Ternate, yang juga ke Halmahera Selatan.

Kami tiba di Desa Babang, Halmahera Selatan pada pukul 10.27 menit, kami pun turun dari kapal menuju ke Desa Mandaong, dimana di desa itu dilaksanakan Expo Maritim, kami lantas mencari penginapan, namun pukul 14.37 WIT, kami kembali menuju ke desa Babang.

Tujuan kami ke Halmahera Selatan Adalah melakukan peliputan pembukaan event Widi International Fishing Tournament atau (WIFT) 2017, Expo Maritim.

Kurang lebih pukul 14.26 WIT, Menteri Koordinator Maritim, Luhut Binsar Panjaitan, yang didampingi, Gubernur Maluku Utara, H. Abdul Hani Kasuba, Pangdam 16 Patimura Irjen TNI Doni Munardo, Bupati Halmahera Selatan Bahrain Kasuba, Kapolda Maluku Utara Brigjen Pol. Achmad Juri, Komandan Pangkalan Angkatan Laut Ternate, Kolonel Laut Rizaldi dan sejumlah pejabat Kementerian serta provinsi Maluku Utara.

Luhut Binsar Panjaitan, dalam kesempatan itu, menggantikan Presiden Joko Widodo yang semula direncanakan untuk hadir membuka event Widi International Fishing Tournament (WIFT) 2017.

Setelah selesai membuka event WIFT, Menko Maritim kemudian kembali menuju Ternate dan langsung terbang ke Jakarta.
Pukul 18.00 WIT, 350 peserta mancing, menuju ke Pulau Widi dengan menumpangi Kapal Bahari Expres dan Halsel Expres.

Kami, para awak media masih membuat berita dan dan mengirim berita sehingga terlambat ikut bersama rombongan peserta ke Pulau Widi.

Tapi keesokan harinya Kamis 26 Oktober 2017, kami berusaha mencari akses untuk menuju ke pulau Widi, namun kami tidak mendapatkan akses kapal maupun speed boad, terpaksa kami pulang dan melakukan peliputan Expo Maritim.

Keesokkan harinya, Jumat 27 Oktober, kami kembali mencari akses menuju Widi dan kami mendapatkan Kapal Kal Tidore, milik TNI Angkatan laut yang juga mau ke Pulau Widi, tapi kami harus menunggu hingga pukul 01.04 dini hari untuk berlayar ke pulau tersebut.

Malam itu tersisa 8 orang, termasuk saya, menuju ke Pulau Widi, kami sangat berterima kasih kepada Komandan Pangkalan angkatan laut, Kolonel Laut Rizaldi dan Anggota Angkatan Laut, karena sudah memberi tumpangan kepada kami.

Menumpang perahu milik warga

Perjalanan ke Pulau Widi cukup jauh, memakan waktu sekitar 6 jam dari Babang. Kami baru tiba di Pulau Widi pukul 06.00 WIT, meski jaraknya masih jauh tapi Pulau Widi sudah terlihat.

Tiba di jembatan pelabuhan Widi, kami bertemu dengan Gubernur Maluku Utara, Abdul gani Kasuba, beliau terlihat menggunakan kain sarung warna putih dan kaos berwarna putih, dengan kondisi tubuh yang basah (kemungkinan beliau selesai mandi di pantai).

Kami kemudian bersalaman dengan orang nomor satu di Maluku Utara tersebut, selanjutnya kami mencari tempat tinggal tapi kami tidak mendapakan tempat, terpaksa tas dan semua alat peliputan (kamera), kami letakkan dibibir pantai, sambil mencari tempat tinggal, hingga pukul 15.00 WIT, barulah kami mendapatkan tempat tinggal, yang dibantu dengan salah satu panitia yg biasa dipanggil Rio.

Naik mobil membelah daratan Halmahera untuk sampai ke Babang

Kami pun memasukan barang bawaan kami ke tenda, yang berukuran sekitar 4×4 meter. Kami lalu beristirahat sejenak sambil menunggu para peserta pulang dari memancing. Hingga pukul 17.30 WIT terlihat kapal yang digunakan peserta mancing mulai berdatangan dengan membawa hasil tangkapan mereka.

Sore itu Pantai Widi terlihat ramai karena, para peserta dan undangan berkumpul melihat hasil mancing para peserta, ikan yang mereka tangkap ada yang berukuran sangat besar, sedang dan kecil, peserta yang berhasil menangkap ikan besar terlihat sangat gembira. Apalagi ketika ditimbang dan melebihi aturan pertimbangan lomba, tapi ada juga yang terlihat sedih karena ikan mereka tangkap tidak mencukupi berat yang ditentukan panitia. Namun ada juga yang tereliminasi karena terlambat memasukan hasil tangkapan mereka karena melewati batas waktu yang ditentukan panitia.

Hari pun mulai gelap, saya dan beberapa teman lantas menulis berita dan ada juga yang memilih menikmati pantai Widi. Usai menulis berita, kami kemudian pergi ke kapal dan meminta beberapa ekor ikan untuk kami disantap. Beruntung, kami diberi beberapa ekor ikan oleh peserta mancing.
Ikan yang kami dapat itu kami bakar dan santap bersama.

Pantai Pulau Widi, destinasi wisata yang perlu di perhatikan

Malam minggu yang berbeda di pantai widi, jauh dari keramaian kota, dan hanya ditemani alunan lagu dari grup band akustik yang di datangkan oleh panitia dari Ternate. Malam pun mulai larut, kami pun masuk ke tenda dan tidur.

Keesokan harinya, Minggu tanggal 29 Oktober, lomba berakhir, seluruh peserta, undangan termasuk kami 8 awak media bersiap-siap untuk balik ke Babang Kabupaten Halmahera Selatan, mengikuti penutupan WIFT. Pukul 10.27 WIT, panitia memandu satu persatu peserta untuk naik ke atas kapal.

Setelah semua peserta di panggil, kami berdelapan tidak kunjung dipanggil, ternyata kami tidak masuk dalam manifest penumpang kapal. Meski tak dipanggil, kami tetap naik kapal Bahari Expres tersebut, tapi saat naik kapal, kami bersama grup band akustik berada di dek 3 paling belakang.

Namun tak berselang lama, salah satu anggota keamanan, datang menanyakan kepada kami, “Dari media mana? turun dulu soalnya ada peserta yang belum kebagian tempat duduk”, ujarnya.

Tak ingin beradu mulut, kami terpaksa turun dari kapal. Tak lama berselang, kami diminta naik ke kapal lagi. Tapi kami tolak, hal yang sama kami lakukan saat Kadis Perikanan Provinsi Malut meminta kami untuk bersama-sama menumpang speed boat mereka, tapi harga diri sudah terusik, dengan tegas kami tolak.

Disinilah, petualangan kami dimulai. Sebuah perahu milik warga membawa kami, menuju Gane Dalam, selanjutnya kami menggunakan kendaraan ojek untuk menuju ke kecamatan Gane Dalam dengan harapan mendapatkan akses transportasi ke desa Babang, namun kami tidak dapat transportasi.
Harus diakui, perjalanan menuju Babang, cukup berliku.

Kami pun terpaksa bermalam di warga, Kecamatan Gane Dalam. Senin pagi, kami pun bergegas menuju dermaga untuk menunggu speed boad yang memiliki jadwal ke Desa Babang. Baru pukul 10,07 WIT speed boad tiba di pelabuhan Game Dalam. Meski laut dalam kondisi tak bersahabat, kami terpaksa naik ke speed boat tersebut.

Di dalam perjalan kami dihantam ombak besar, diperkirakan ombak mencapai tiga meter. Speed boat yang kami tumpangi di masuki air, karena hantaman ombak. Penumpang pun mulai panik, sehingga kami meminta motoris untuk berlabuh di pelabuhan Tabapoma. Dari Tabapoma, kami pun mencari transportasi mobil untuk ke Desa Babang. Beruntung sebuah mobil datang dan mengakhiri perjalanan kami ke Desa Babang.

Dari perjalanan itu, satu yang bisa kami simpulkan, betapa transportasi penghubung antara daerah satu dengan yang lain, sangatlah penting. Bisa dibayangkan, perjalanan begitu jauh menuju sebuah Pulau nan eksotis dan indah bernama Widi, Pulau dengan kekayaan laut yang melimpah. Pulau dengan panorama laut yang menakjubkan.

Perlu sebuah kebijakan yang strategis dan serius untuk membangun destinasi wisata baru di Pulau Widi. Baik dari segi transportasi maupun pembangunan fisik, untuk menunjang pariwisata yang “katanya” berkelas dunia. (Hijrah Ibrahim)