Beranda Halmahera Selatan Mahasiswa Tuntut Transparansi Kampus

Mahasiswa Tuntut Transparansi Kampus

536
0
BAGIKAN

Sardi : Sampai saat ini ijazah belum diterima.

LABUHA – Setelah menuai polemik yang berkepanjangan, karena diduga tak mampu membayar gaji dosen, Kampus Politeknik Halmahera Selatan kembali di demo mahasiswa.

Aksi mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa Halsel, meminta pihak kampus trasparan soal ijazah mahasiswa yang diwisudakan beberapa tahun kemarin.
Pasalnya, pihak kampus sudah tidak lagi mengurusnya dikarenakan kampus tersebut juga terancam ditutup karena diduga memiliki masalah akreditasi.

Kampus yang dipimpin oleh Kepala Bappeda, Daud Djube tersebut, beberapa bulan terakhir mengalami persoalan sehingga dosen dan mahasiswanya mengancam mogok dan tidak lagi beraktifitas. Padahal kampus tersebut juga menggunakan dana sharing melalui APBD Halmahera Selatan.

Kordinator lapangan Sardi Hongi, bersama barisannya menuju Dinas Pendidikan, Kejaksaan dan DPRD Halsel menyuarakan aspirasinya untuk ditindaklanjuti.
Dalam pembukaan route aksi unjuk rasa di Dinas Pendidikan Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Sardi Hongi menyampaikan pihaknya atas nama front gerakan mahasiswa Halsel menginginkan agar permasalahan di kampus Politeknik secepatnya diselesaikan karena hasil telusuri DPRD Halsel Komisi I di Jakarta katanya Kampus Politeknik tersebut tidak terdaftar di DIKTI.

“Kami minta bukti transparansi dari pihak kampus, karena kampus tersebut tidak terdaftar di DIKTI,” ungkapnya.
Lanjut dia, hal ini dilakukan karena dalam jangka waktu dekat ini pihak politeknik akan mengadakan wisuda, padahal jauh sebelumnya sejumlah mahasiswa yang telah diwisudakan oleh pihak kampus ternyata sampai saat ini belum memiliki ijazah.

“Kami juga meminta agar dinas pendidikan dapat meminimalisir kekurangan tenaga pengajar di SD, SMP dan SMP di Kabupaten Halsel ini, karena kemarin teman-teman kami melakukan kuliah lapangan di sejumlah desa yang ada di Halsel ini ternyata terdapat kurangnya tenaga pengajar salah satunya di Desa Mandioli”, tandasnya (11/12).

Aksi tersebut sempat memicu terjadinya saling rebut ban bekas yang akan dibakar oleh mahasiswa, dan dirampas oleh satuan polisi pamong praja dan polisi yang mengawal aksi.

Pemicu aksi unjuk rasa ini terjadi karena sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Front Gerakan Mahasiswa Halsel yang anggotanya terdiri dari organisasi gerakan PMII, LMND, dan SYILVA mempermasalahkan pendidikan yang ada di Kabupaten Halsel terutama permasalahan di Kampus Politeknik Halmahera dan kurangnya tenaga pengajar di beberapa sekolah SMP, SMA dan SD di Kabupaten Halsel. “Yang jelas kami kecewa”, ungkap koordinator aksi. (Raja)