Beranda Maluku Utara Takut Dibilang Buta huruf dan Bodoh

Takut Dibilang Buta huruf dan Bodoh

941
0
BAGIKAN
Basri Salama

Oleh : Basri Salama

Saya orang yang paling takut di sebut buta huruf dan bodoh, sebab itu, sesusah apapun hidup, saya harus sekolah.

Dulu cita-cita saya saat sekolah yang penting tahu baca dan tulis tapi ternyata tidak cukup, untuk itu saya harus sekolah terus, sampe saatnya saya tidak disebut buta huruf dan bodoh. Disebut bodoh dan buta huruf adalah hinaan yang tak bisa saya terima. Dan alhamdulillah saya jauh dari hinaan itu.

Contoh :
Ada yang bilang Basri Salama telah dipecat dari Ketua DPD Hanura dan telah di gantikan oleh si itu si ini dengan SK No sekian dan Basri Salama tidak boleh lagi sebagai Ketua DPD Hanura Malut.

Untungnya saya sekolah tidak sekedar tahu baca dan tulis, sehingga tidak terlalu gubris dengan itu, tapi karena banyak pertanyaan lewat telepon, WA dan mesengger maka saya jawab.

Begini Jawabannya.

“Yang sementara ini diverifikasi oleh KPU adalah kepengurusan Hanura yang Ketua Umumnya Oesman Sapta Odang dan Sekjennya Herry L. Siregar. Kenapa dibawa kepengurusan mereka? Karena kita ini sedang hidup dalam sebuah Negara Hukum. KPU hanya melakukan verifikasi kepada Kepengurusan Partai yang memiliki SK absah dari Kementrian Hukum dan Ham. Dan kepengurusan yang telah di verifikasi itu memiliki hak sebagai peserta pemilu.
Kepengurusan Partai yang tidak memiliki SK absah dari Kementerian Hukum dan Ham, tidak akan diakui oleh KPU, sebab KPU Lah yang diberi kewenangan oleh UU menyelenggarakan Pemilu.

——-“lain hal jika ada putusan hukum (PTUN) yang menyebabkan KPU berubah”———

Nah, jika tidak di akui, lalu dimana posisi mereka yang tidak diverifikasi oleh KPU sebagai peserta pemilu. Saran saya, bikin saja KPU sendiri atau bikin saja negara sendiri di alam ghaib supaya posisinya jelas, bisa ikut Pemilu di alam ghaib.

Demikian,

“Terima kasih bapak dan Ibu guru, yang telah mendidik saya hingga tidak bodoh atau dibodoh-bodohkan dan buta huruf, terima kasih juga kepada kedua orang Tua yang telah berjuang agar anaknya memahami persoalan, dan alhamdulillah tidak dihina sebagai buta huruf dan bodoh”

“Belajarlah agar anda tidak disebut bodoh dan buta huruf, sebab kata-kata itu perih dan menyakitkan”.