Beranda Maluku Utara Kodim 1505/Tidore Bersama Aparat Desa Woda Bangun Sekolah Rimba Suku Togutil

Kodim 1505/Tidore Bersama Aparat Desa Woda Bangun Sekolah Rimba Suku Togutil

207
0
BAGIKAN
Foto bersama di depan sekolah rimba. (Foto: Istimewa)

TIDORE KEPULAUAN – Pembangunan sekolah rimba untuk suku Togutil atau Suku Tobelo Dalam di Desa Woda, Kecamatan Oba, Kota Tidore Kepulauan terus dikerjakan.

Sekolah rimba suku Togutil tersebut merupakan kepedulian dari Komando Distrik Militer (Kodim) 1505/Tidore dibawah Komandan Distrik Militer (Dandim) Letkol (Inf) Yayat Priatna Prihatina dan Kepala Staf Kodim (Kasdim), Mayor (Inf) Sihono.

Dandim 1505/Tidore melalui Kasdim, Sihono mengatakan, berkat koordinasi pihak Kodim dengan Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan, khususnya Pemerintah Desa Woda dan masyarakat, sehingga pekerjaan sekolah rimba suku Togutil dapat dikerjakan.

“Saat ini masih dikerjakan 3 unit, 1 unit dulunya direncanakan sebagai taman baca namun nanti kita kembangkan lagi menjadi bangunan serba guna. Sehingga bisa digunakan sebagai tempat pembinaan oleh aparat desa kepada suku Togutil, selain itu dipakai juga untuk perawatan kesehatan terhadap suku Togutil,” jelas Sihono saat memantau pembangunan sekolah rimba Suku Togutil di Desa Woda, Kamis (10/10) pagi.

Sedangkan untuk dua unitnya, kata Sihono, digunakan sebagai tempat tinggal. Dimana, satunya untuk kepala suku atau orang yang dituakan dalam kelompok mereka. Dan satunya lagi diprioritaskan bagi mereka yang lebih layak untuk menempati.

“Karena saat ini, di base camp tempat mereka tinggal terdapat bayi yang saat ini baru berumur 4 bulan, mungkin itu yang kita prioritaskan untuk menempati,” pungkasnya.

Selain tiga bangunan yang saat ini hampir mendekati 100 persen pekerjaannya, nantinya dibangun pula tempat ibadah berupa musala dengan luas 4×5 meter. “Musalah ini dibangun selain sebagai pembinaan mental masyarakatnya, dapat juga dipakai salat oleh masyarakat yang beraktifitas di sekitar sini, kalau masuk waktu salat bisa digunakan,” tuturnya.

Sementara itu, pembangunan sekolah rimba suku Togutil dibangun diatas tanah milik Mahmud Kandari, warga Desa Woda.

Mahmud Kandari atau dikenal dengan sebutan La Udu oleh masyarakat Desa Woda, telah banyak membantu suku Togutil. Bahkan dikalangan suku Togutil, La Udu lebih dikenal dengan sebutan Sobat.

Kepedulian La Udu terhadap Suku Tobelo Dalam, patut menjadi contoh bagi pemerintah daerah. Pasalnya, dengan hidup yang serba pas-pasan, La Udu mampu menyisihkan sedikit rezikinya kepada mereka. Bahkan hal itu dilakukannya sudah sejak lama. Tak heran, jika La Udu menjadi jembatan komunikasi suku Togutil dengan masyarakat luar.

Rasa pedulinya tidak sebatas memberikan uang dan barang, namun La Udu juga mengajarkan suku Tobelo Dalam bercocok tanam di lahan miliknya.

La Udu, saat ditemui media ini di lokasi pembangunan sekolah rimba, mengatakan, awalnya dicari lokasi untuk membangun sekolah rimba namun tidak mendapatkan. Dirinya kemudian berkomunikasi dengan Dandim 1505/Tidore, Letkol (Inf) Yayat Priatna Prihatina untuk dibangun di lokasi miliknya.

“Saya kemudian bilang di Dandim bangun di lokasi saya saja yang penting untuk suku Togutil. Karena dorang ini dibina oleh pesantren Hidayatullah sama-sama dengan Kodim Tidore,” tuturnya.

Dirinya pun berharap dengan dibangunnya sekolah rimba itu bisa membuat ia dan suku Togutil lebih dekat. “Semoga lokasi yang sudah disiapkan ini mereka suku Togutil bisa sama-sama dengan saya seperti masyarakat pada umumnya,” katanya, sembari berharap agar Pemerintah Daerah atau pun Pemerintah Kecamatan supaya bisa melobi di pusat guna meminta bantuan untuk diberikan ke suku Togutil.

Sekedar diketahui, pembangunan sekolah rimba suku Togutil yang saat ini sedang dikerjakan itu, dianggarkan sebesar Rp. 58.873.490 bersumber dari anggaran dana desa (ADD) Desa Woda lewat APBD tahun anggaran 2019. Hal itu dilakukan setelah adanya komunikasi antara Kodim Tidore bersama pemerintah daerah.

“Kita anggarkan lewat APBD atas komunikasi antara kitorang (kami-red) dengan Kodim dan Wali Kota. Ada pembicaraan antara pihak Kodim dengan pak wali sehingga dong (mereka-red) mengiyakan itu dan menganggarkan ini,” kata Adnan Usman, Sekretaris Desa Woda saat mendampingi Kasdim meninjau pembangunan tersebut.

Dikatakan, sebelumnya pihaknya takut untuk menganggakan pembangunan ini lewat ADD namun adanya komunikasi tingkat atas sehingga pembangunan tersebut bisa dilakukan.

“Kitorang juga takut kase anggarkan ini jangan sampai menyalahi, cuman ada komunikasi tingkat atas jadi ini bisa dilakukan. Dan alhamdulillah dia jalan di tahun 2019,” pungkasnya.

Dirinya pun berharap dengan adanya pembangunan ini semua pihak bisa terbuka matanya untuk sama-sama memperhatikan keberadaan suku anak dalam sehingga kehidupan mereka bosa layak seperti masyarakat pada umumnya.

“Mari kita lihat suku anak dalam ini karena mereka juga bagian dari rakyat Indonesia, sehingga kehidupan mereka layak karena mereka juga adalah warga negara Indonesia,” akunya. (SS)