Beranda Maluku Utara Pengambilan Dokumen Sultan Baabullah di Portugal Menunggu Kesiapan

Pengambilan Dokumen Sultan Baabullah di Portugal Menunggu Kesiapan

110
0
BAGIKAN
Ketua Tim, Prof Saiful Ruray. (Foto: Istimewa)

TERNATE – Tim Pengusulan Sultan Baabullah menjadi Pahlawan Nasional, Selasa (21/1/2020) tadi melakukan rapat bersama pemerintah kota Ternate yakni Dinas Sosial, Perwakilan pemerintah Provinsi Malut, Profesor Philip Santo dari Portugal, tim verifikasi sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), dan perwakilan dari Universitas Khairun kota Ternate, rapat berlangsung di kantor Wali Kota Ternate.

Rapat tersebut, terkait penyusunan data primer untuk pengambilan dokumen sejarah Sultan Baabullah yang ada di Portugal dan Inggris.

Ketua Tim pengusulan Baabullah menjadi pahlawan nasional, Prof Saiful Ruray kepada awak media menjelaskan bahwa saat ini tim sedang fokus untuk rencana pengambilan dokumen/arsip berupa surat-surat Sultan Babullah yang ada di Portugal dan Inggris.

Dirinya mengatakan, bahwa data-data yang tersimpan pada lembaga arsip di Lisabone, yakni Arsifo Detoro De Tombo. Dimana di dalamnya ada banyak sekali dokumen lama tentang Ternate, Bacan, Jailolo, Tidore dan Maluku Utara seluruhnya. Selain itu ada juga domumen di British Orientaly Museum yang ada di London dan dokumen Museum Bahari di replika kapal Golden Him yang pernah masuk di Ternate.

“Jadi di tahun 1579 ada dokumen-dokumen surat dari Sultan Baabullah kepada Ratu Elizabeth ke 1 yang hingga saat ini masih tersimpan di sana,” jelasnya.

Dirinya menuturkan untuk di Lisabone bukan hanya ada surat tuntutan Baabullah terhadap Raja Portugal atas wafatnya Sultan Khairun tapi juga ada surat bahasa melayu tertua di dunia yang ditulis oleh Sultan Abbu Hayat.

“Ada dua surat, Sultan Ternate menulis surat, dan surat itu diakui sebagai surat bahasa melayu yang menggunakan bahasa arab melayu tertua di dunia,” tuturnya.

Dia juga mengatakan bahwa sebenarnya di Ternate ini banyak sekali arsip yang ada di Eropa, hanya saja kita sebagai masyarakat Maluku utara khususnya kota Ternate yang masih belum fokus dan acuh dengan sejarah.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan bahwa, pada pengambilan dokumen semuanya duplikat, dimana tim harus meminta ijin terlebih dahulu kepada pemerintah di Portugal dan Inggris, melalui kedutaan besar Indonesia di Lisabone, London.

Untuk rencana keberangkatan tim, dirinya belum bisa memastikan sebab, ini masih dalam tahap penyusunan dan menunggu kesiapan pemerintah daerah.

“Saya belum bisa pastikan karena masih melakukan penyusunan dan masih tunggu kesiapan pemda jadi mungkin sebulan dua bulanlah,” tandasnya. (NN)