Beranda Maluku Utara Jejak Pemilik Batik Tubo, Dari Jual Pisang Goreng, Hingga Punya Merk Dagang...

Jejak Pemilik Batik Tubo, Dari Jual Pisang Goreng, Hingga Punya Merk Dagang Sendiri

1389
0
BAGIKAN

TERNATE – Siapa yang tak kenal Kustalani Syakir, pemilik Brand Batik Tubo?. Melihat kehidupan Kustalani Syakir sekarang, saat sudah memiliki brand (merek) sendiri, seakan berbanding terbalik jika kita melihat kebelakang, saat 10 Tahun yang lalu.  Pria yang biasa di sapa Ko Lan ini, adalah seorang pendiri Rumah Oleh-oleh sekaligus pencetus Batik Tubo, di Maluku Utara.

Kekayaan budaya serta warisan leluhur dan rasa cintanya kepada negeri itu, disalurkan semuanya dalam bentuk sebuah kreasi dan kreatifitas kerajinan seni tulis di atas kain dan mencetaknya.

Rumah oleh-oleh Batik Tubo (BT) namanya, tempat yang menyediakan beragam batik khas Ternate dan memberikan peluang kerja bagi puluhan anak muda, baik sebagai karyawan tetap maupun hanya sebagai freelance di Rumah Produksi Batik Tubo miliknya.

Nama brand Batik Tubo terinspirasi dari salah satu nama desa tertua Kota Ternate. Hingga dijadikan filosofi oleh owner (BT), sebelum nama dan brand (BT) mengerucut di permukaan.

Saat Gamalamanews.com bertandang di pusat penjualan Batik Tubo yang terletak di
Kelurahan Kalumpang Kota Ternate Tengah, putra dari ibu Sakinah Abd Rahman dan Syakir Hadi, mengisahkan perjalanan hidupnya dari berjualan pisang goreng hingga sukses seperti sekarang ini.

Berbincang dengan Sultan Tidore

Semenjak kecil, Ko Lan, (begitu ia kerap di sapa) telah diajarkan, oleh orang tuanya, berdagang. Dagangan yang sering ia jual adalah pisang goreng. Demi membantu perekonomian keluarga  Kustalani kecil harus rela berjalan sejauh empat kilometer untuk menjajakan dagangannya. Ia berkeliling ke beberapa kampung, seperti Tabahawa, Skep Pohon Amo, dan Kelurahan Ngidi Kota Ternate. Rutinitas itu berlangsung setiap hari.

“Itu biasanya jam empat sore sudah siap untuk mulai berjualan, dengan rute yang sama, kalau tidak pisang goreng,  ya Jagung rebus, untuk jagung rebus, dijual di pelabuhan Ahmad Yani, dan Pelabuhan Bastiong” kenang Ko Lan.

Keadaan itu bertahan hingga pada Tahun 1985, saat mereka sekeluarga pindah tempat tinggal di Kelurahan BTN, Ternate Tengah. Memang ia masih menjajakan pisang goreng, namun dagangannya mulai beragam.
Tekad membantu keluarga, Kustalany kecil tak malu-malu, ia tetap berjualan hingga menginjak Sekolah Menengah Atas.

“Bahkan pada jenjang SMA saya juga berkebun, tanam kasbi (Ubi Kayu) hasilnya di jual ke pasar, bahkan tugas tiap sore saya adalah  memanen buah sirih kemudian ke esokan harinya nenek saya pergi menjualnya ke pasar, dari situlah saya mendapat uang jajan”, kisahnya.

Hingga Tahun 1998 Ia kemudian melanjutkan studinya di Universitas Muslim Indonesia di Makasar, Program Studi Teknik Sipil. Demi menambah biaya kuliah, sekali lagi, Ko Lan harus banting tulang menjadi buruh bangunan di kota tersebut.

Keputusan terbesar Ia ambil, saat dia harus berhenti kuliah dan memutuskan kembali ke Ternate. Niatnya hanya satu, merubah hidup.
Dari kerja bangunan sambil membuka usaha jual beli ternak kambing dan ayam, hingga akhirnya jadi pedagang sate kambing, pada tahun 2001-2002. Usaha itu berkembang pesat. Hingga akhirnya ia memiliki tiga gerobak sate lengkap dengan karyawan.

“Saya melakukan tour ke daerah-daerah membeli kambing dan ayam untuk dijual kembali di Ternate bahkan pernah menjadi tukang sate”  jelas Ko Lan.

Usaha yang dijalani itu, diakuinya memang mendatangkan penghasilan cukup besar, namun ia mengaku usaha tersebut belum dirasa nyaman, hingga akhirnya pria berumur 39 Tahun itu, mengambil keputusan, membuka usaha lain.

“Pada kurun waktu 2004 hingga 2008 saya mencoba membuka peternakan bebek, menjual keramik, pedagang kain gorden, tetapi belum juga membuat  saya nyaman, dan pada akhir tahun 2008, saya memutuskan untuk belajar membatik di Kota Solo, Palembang, dan Jogja”, ujar anak sulung dari lima bersaudara itu.

Tak sia-sia, kini Kustalani Syakir mendulang sukses, kisah dari berdagang pisang goreng keliling hingga menjadi salah satu pengusaha batik di Kota Bahari Berkesan ini. (HARI)