Beranda Maluku Utara Segitiga Emas Masih dijadikan Solusi

Segitiga Emas Masih dijadikan Solusi

493
0
BAGIKAN
Kepala Bank Indonesia (BI) Maluku Utara, Dwi Tugas Waluyanto

TERNATE – Seringkali para petani yang tidak tahu bagaimana harus menjual hasil pertanian mereka disaat harga mulai meroket turun, sebagian bahkan lebih memilih untuk tidak memanen dan terbiarkan membusuk, dibandingkan mencari jalan keluar untuk dipasarkan.

Kepala Bank Indonesia (BI)  Maluku Utara,  Dwi Tugas Waluyanto, kepada wartawan mengatakan kebutuhan pangan di Malut harus butuh kerjasama dengan sejumlah pemerintah provinsi maupun pemerintah kota untuk mendorong sejumlah petani maupun pemasok agar tetap utamakan hasil pertanian di Malut.

Untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi malut melalui tim pengendali inflasi daerah (TPID) Kota Ternate,  intens melakukan kerjasama baik pemerintah Kota maupun Provinsi dalam mendorong sektor pertanian melalui TPID.

Sementara itu, dalam menjelang 2018 maka TPID bakal lebih intens dalam mengenjot semua sektor di TPID karena tantangan di Tahun 2018 semakin berat, maka bakal ditingkatkan lagi komoditas pangan. “Karena yang bisa dilakukan intervensi yaitu komoditi pangan,  sehingga kita akan membuat road map dan kerjasama dengan pemerintah provinsi maupun kota agar SKPD membuat kegiatan yang berkaitan dengan pangan bisa mempunyai target yang jelas, “jelas Dwi ketika diwawancara Jumat (15/12/2017).

Untuk itu,  TPID juga mengintenskan kerjasama dengan Segitiga Emas, karena komoditi yang dihasilkan Daerah Tidore dan Ternate, harus mempunyai pasar yang jelas, agar para petani tidak kebingungan untuk memasarkan hasil pertaniannya. “Karena ada kejadian petani di Haltim ketika harga tomat jatuh mereka lebih memilih tidak panen dan barangnya membusuk,  seharusnya ada kordinasi dengan baik dengan asosiasi pedagang di Ternate, maka hal itu bisa dihindari agar tidak terjadi hal demikin, “kata Dwi.

Salah satu solusi yang diberikan  oleh Dwi adalah, diharapkan para petani yang ada di Malut harus menjalani komunikasi dengan sejumlah asosiasi pemasok yang ada di Ternate,  sehingga jika ada petani yang nantinya melakukan panen baik tomat,  cabai atau pun yang lainnya.

“Perlu dilakukan kerjasama agar para pemasok di Ternate tidak mengambil barang dari luar seperti Manado ataupun Surabaya,” pungkas Dwi. (HT)