Beranda Maluku Utara Pengukuhan Haji Bur sebagai Sangaji Jiko Malofo Bagian 1

Pengukuhan Haji Bur sebagai Sangaji Jiko Malofo Bagian 1

1636
0
BAGIKAN
Prosesi adat pengukuhan Haji Bur sebagai Sangaji Jiko Malofo

Jako Ruko Prosesi Adat Membuang Kesialan

TIDORE – Tede Se Saha Gam Matolamo, sebuah tema yang menarik, sehubungan dengan pengukuhan, Tede Se Saha artinya kita menghargai dan menghormati, Gam Matolamo, begitu kata Sangaji Laho,  Umar Yasin saat memberikan sambutan seusai prosesi adat pengukuhan Burhan Abdurahman dan istrinya yang biasa di kenal dengan Ibu Sia yang diawali dengan  Jako Ruko, Sabtu (17/2/2018).

Kita kukuhkan Burhan Abdurahman sebagai Sangaji Jiko Malofo, yang perlu diingat bahwa pengukuhan ini memberikan beban moral bagi masyarakat Mareku, sekaligus sebagai sebuah komitmen kita, bahwa kita siap untuk mendukung dan menangkan Burhan Abdurahman di Mareku.

BACA JUGA

Pengukuhan Haji Bur sebagai Sangaji Jiko Malofo Bagian-2

Ini komitmen kita, tegas Sangaji Laho kepada ratusan undangan yang memenuhi tenda yang tersedia bahkan sebagian masih berada diluar tenda. Lanjutnya, karena terkait dengan perkembangan kedepan, pada era 21, 500 tahun ekspedisi Magelang adalah satu-satunya kota yang di singgahi oleh ekspedisi itu, maka kita membutuhkan pemimpin yang benar-benar memahami adat negeri ini.

“Pak Bur ini bukan punya Tidore saja, ini adalah punya Maluku Utara, punya kita semua,” ucapnya seraya memberikan energi positif kepada seluruh masyarakat.

Acara pengukuhan yang ditandai dengan Jako Ruko, sebetulnya adalah makna doa, Ibu Sia (Istri Haji Bur red) orang mareku, dan mungkin saya perlu jelaskan, itu adalah sebuah ucapan doa, yang diwujudkan pada sebuah perbuatan, apa yang dilepaskan tadi adalah hal-hal yang terkait dengan kesialan diri, dilepaskan tadi dan mereka doakan, semoga yang terbaik untuk pak Bur dan keluarga itulah Jako Ruko yang sesungguhnya.

Masih kata Sangaji Laho, “Saya berharap kepada masyarakat Mareku, berbeda dalam kehidupan itu hal yang biasa, berbeda itu adalah sebuah rahmat yang diberikan oleh Allah, tetapi yang diinginkan adalah dalam perbedaan itu kita satu dalam satu kesatuan yang utuh”.

Kata Sangaji Laho, torang (Kita) belajar dari sejarah, sepanjang perjalanan 20 tahun 2 dasawarsa silam, Maluku utara seperti ini, kapan lagi kita berharap, kapan lagi kita berharap untuk membangun Maluku Utara, 2 dasawarsa dengan 3 pemilihan yang kita harapkan adalah masyarakat Maluku Utara bisa berkembang setara dengan provinsi lain yang ada di Indonesia, tapi apa yang kita dapat.

“Jadi pada kesempatan ini kita berharap ketika komitmen kita sudah kuat, maka kita punya tugas dan kita punya kewajiban dan tanggung jawab Moral, bukan saja di mareku tetapi dimana saja,” pungkasnya. (HT)