Beranda Halmahera Utara Berteman Akrab tidak Menjamin selalu Hidup Berbaikan, Nyawa jadi Taruhan

Berteman Akrab tidak Menjamin selalu Hidup Berbaikan, Nyawa jadi Taruhan

284
0
BAGIKAN
Kristofel Kutani, Kepala Desa Katana

TOBELO – Peristiwa pembunuhan di desa Katana, Minggu (19/08) malam lalu yang sempat membuat geger warga desa, sampai sekarang belum diketahui, apa motif yang melatarbelakangi kejadian tersebut.

Nahas yang dialami oleh Heng Masnandifo (46 tahun), tubuhnya harus bersimbah darah dan kehilangan nyawanya akibat dari ulah EK alias Son.

Korban yang berprofesi sebagai petani itu, dikenal baik oleh warga dan semua kerabatnya. Yang menjadi tanda tanya warga, kenapa nyawa Heng Masnandifo tega dihabisi oleh orang yang dikenal akrab dengannya yaitu, sang pelaku Son.

Son dan Heng, oleh warga Katana, dikenal sebagai dua orang karib. Selain berprofesi yang sama sebagai petani, dalam keseharian kedua orang ini, banyak hal selalu dijalani bersama-sama.

“Dorang dua, makanpun sama-sama. Ketika bakumpul dan bercerita, juga bersama-sama. Bahkan sampai tidur pun, terkadang juga bersama-sama”, cerita Kepala Desa Katana, Kristofel Kutani kepada para pemburu berita yang menghubunginya di Polres Halmahera Utara, Selasa (21/08) siang tadi.

Lanjut Kristofel, sebelum kejadian tragis itu terjadi, saat siang harinya, Heng dan Son terlihat sama-sama pergi menonton pertandingan bola di desa Pediwang kecamatan Kao Utara.

“Saya juga lihat, saat sore hari sekitar jam 3, kedua orang tersebut jalan berbarengan dengan tujuan ingin menonton pertandingan sepak bola di Pediwang”, kenang kepala desa dengan raut wajah sedikit menunduk pertanda sedih.

Tidak habis pikir oleh sang kepala desa, dirinya juga kaget, saat tengah asik menikmati acara televisi, tiba-tiba ada yang menggedor pintu rumahnya dengan keras.

Tanpa pikir panjang dengan banyak bertanya lagi, cerita kepala desa, dirinya pun membuka pintu. Sontak ia terkejut, ketika melihat Son masuk lalu menyerahkan parang miliknya yang dilumuri darah. Menerima parang tersebut dari Son, pelaku lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya, bahwa dia telah membunuh Heng dan meminta perlindungan kepada sang kepala desa.

“Saat asik menonton televisi, ada yang toki pintu keras-keras. Saya buka pintu ternyata Son yang datang dengan membawa parang yang sudah basah dengan bekas-bekas darah. Dia lalu bercerita bahwa telah membunuh Heng dan meminta perlindungan”, ungkap Kepala Desa sesekali menirukan cara Son mengetuk pintu rumahnya.

Selain itu, menurut kepala desa Kristofel Kutani, pelaku Son diduga memiliki riwayat penyakit Malaria. “Saya juga tidak mempunyai hak untuk memastikan pelaku mempunyai riwayat penyakit Malaria. Tapi yang saya tahu demikian, karena pelaku beberapa kali di rawat di rumah sakit, akibat terserang penyakit tersebut”, tutur kepala desa sembari mengingatkan, pemeriksaan adalah hak para penyidik kepolisian, “Kami menyerahkan penuh”, tandasnya. (Enol)