Beranda Ruang Kita Cahaya di Langit Halmahera

Cahaya di Langit Halmahera

484
0
BAGIKAN
Penulis

Ternate, 05 Mei 2018
Gubahan MT AL-THUSI

Mentari kembali menampakkan wajahnya di ufuk timur Indonesia. Tapi kehidupan kami tak seterang cahaya mentari. Sebuah dilema yang selalu menghantui setiap aktifitas kami yang jauh dari kata modern. Rasanya ingin pergi dan meninggalkan tempat yang telah menghidupi kami selama bertahun-tahun.

Meninggalkan orang-orang yang kita cintai, meninggalkan cerita kenangan yang telah di catat tinta sejarah, dan menutup semuanya tentang kehidupan HALMAHERA.

Orang yang merantau adalah orang yang makmur, begitulah apa yang di sampaikan seorang filosof grik yakni THALES. Daerah yang tak mampu menciptakan penghidupan yang layak, sudah seharusnya di tinggalkan.

Itulah yang di lakukan oleh masyarakat grik pada saat itu yang di landa kekeringan, sehingga menyebabkan mereka hijrah dari tempat mereka. Malamku hanya aku habiskan untuk merenungi cerita itu yang memiliki sinkronisasi dengan kehidupanku.

Tapi, ada beban yang teramat berat ku pikul malam itu untuk merealisasikannya. Selimut keraguan menjadi balutan untuk mencegah rayuan kedinginan. Harapan seakan tak berkawan lagi denganku. Optimisme seakan telah mati terkubur bersama sang waktu.

Pagi datang lagi, kasih sayang TUHAN telah di pancarkan di bumi Halmahera. Pertanda bahwa aktifitas kita kembali di mulai. Petualangan kembali menguji mentalitas.

Dan waktu kembali menjadi saksi atas setiap perjalanan kehidupan. Dan aku menemukan setitik cahaya di atas langit HALMAHERA.
Aku bangun dari tempat pembaringanku dengan wajah ceria, bahkan seisi rumah pun heran dan mungkin terselip sebuah pertanyaan, Ada apa dengannya? Kesambat apa tadi malam sehingga kelakuannya tak biasa seperti ini?

Tapi, aku tak memperdulikan mereka. Aku bergegas langsung ke meja makan, untuk mengisi sedikit kekosongan perutku yang menguras begitu banyak tenagaku tadi malam. Dan aku sangat menikmati masakan yang di buat oleh ibuku pagi itu.

Langkah kakiku mulai menemukan iramanya. Semangat untuk menjalani hidup datang menghampiri. Wajah perubahan menuntutku untuk mewujudkannya dalam dunia nyata. Zaman akan selalu melahirkan anaknya. Dan aku memutuskan untuk pergi meninggalkan halmahera, tempat yang telah membesarkanku.

Kita dituntut untuk mengikuti zaman, agar kita tidak di katakana ketinggalan zaman. Tapi harus berhati-hati, nanti kita di gilas oleh zaman. Perbaharui semua potensi yang di miliki, jangan sampai kita dikatakan masyarakat primitive.

Tapi, jangan pernah melupakan adat/kebiasaan yang selama ini telah menjadi ciri khas dari HALMAHERA. Sebab, budaya adalah identitas diri.

Aku pergi ke kota. Mencoba mengadu nasib di sana. Mencoba mengambil pelajaran dari tempat rantauku. Pelajaran itulah yang nanti kelak akan aku modifikasi untuk membangun halmahera ke arah lebih baik. Walau harus aku akui, bahwa keluar dari zona nyaman itu tidak mudah. Menjadi orang asing itu sangat mengerikan.

Apalagi harus beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat setempat, itu sangan membosankan. Rasanya aku ingin kembali saja. Tapi, inilah hidup yang harus di jalani setiap perantau.

Kehidupan kota memang terasa begitu keras, sangat berbeda dengan kehidupanku di halmahera. Tapi, demi misi yang suci aku tetap bertahan. Perjalanan baru saja di mulai, aku tak mungkin mengakhirinya. Dengan bermodal dana, daya, serta do’a, aku akan menggenggam apa yang aku impikan untuk HALMAHERA.