Beranda Ruang Kita Premanisme Kampus

Premanisme Kampus

460
0
BAGIKAN
Penulis

Penulis : MT AL-Thusi

Deretan probelma-problema sosial yang terjadi seakan-akan menjerumus kita pada satu lubang yang begitu dalam, sehingga mengharuskan kita meramu resep untuk menyelesaikannya. Pendidikan menjadi salah satu resep yang paling ampuh untuk menciptakan obat sebagai vitalisasi penyelesaian.

Maka di perlukan pula seorang guru atau dosen yang professional yang mampu meramu obat tersebut. Sekolah atau kampus merupakkan tempat terjalinnya interaksi antara pendidik dan anak didik. tempat untuk mengasah serta mengembangkan potensi yang di miliki. tempat menciptakan generasi tangguh yang mampu menjawab segala kebutuhan hidup.

Tempat di mana masa depan kita akan tercapai.Tapi, tempat itu tak lagi kami temukan kenyamanan di dalamnya. Tempat itu seakan-akan menjadi penjara atas kesalahan yang tak pernah kami lakukan. Tempat yang tak lagi menciptakan regenerasi yang tangguh, malahan melahirkan regenerasi yang bermental budak.

Kita diikat dengan kebelengguan, kemerdekaan kita dijajah, kebebasan untuk menyampaikan kritikkan atau saran pun ditutup. Tenyata, kita di latih oleh orang-orang yang bermental preman. Sebuah keadaan yang tak seharusnya kami rasakan.

Ketika kita coba untuk melawan, kita di sebut pembangkang. Bahkan, setangkai bunga yang bernama ancaman di berikan. Nilai kamu saya tahan dan kamu tidak akan lulus selama saya saya mengajar di sini, begitulah dalil preman kampus. Mereka dengan seenaknya mengatur sesuka hati, kekuatan yang mereka miliki menjadi senjata untuk melakukan penindasan.

Bahkan kontrak belajar yang telah di sepakati antara pendidik dan anak didik yang seharusnya dijalankan dan dipatuhi, seenaknya mereka langgar. Jadwal perkulihan yang telah ditetapkan dan diterapkan, dengan mudah mereka pindahkan. Alasannya sederhana, kesibukkan yang membuat mereka mengharuskan memindahkan jadwal tersebut.

Lantas jika kami memiliki kesibukkan, apakah kami bisa memindahkannya?
Pendidikan adalah proses atau usaha generasi tua dalam mentransformasikan pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan kepada generasi muda.

Budaya penjajahan yang mereka alami, mereka cangkok lalu menanamkannya dalam dunia kita. Apa yang mereka rasakan pada saat itu, mewajbkan kami juga merasakannya.

Dan pada akhirnya, siklus ini dia akan berjalan terus menerus sebagai bentuk budaya yang harus di lestarikan. Itulah proses transformasi yang di lakukan oleh generasi tua kepada generasi muda. Maka jangan heran jika kami bermental preman.

Tak ada pertimbangan rasio yang kami lakukan dalam mengambil keputusan. Kami akan menghantam siapa saja yang menghalanginya. Seperti yang telah di ajarkan oleh preman kampus.

Luapan keresahan tak mampu kami sampaikan. Kami takut. bukan karena ancaman mereka. Tapi, kami takut melihat air mata jatuh dari kedua orang tua kami. Kami tak ingin mereka yang siang dan malam mengeluarkan keringat dalam bekerja untuk menghidupi anaknya yang sedang berjuang untuk mendapatkan gelar, terbuang secara sia-sia, cuma karena membantah kebijakan kampus.

Apapun akan kami lakukan demi melihat kedua orang tua kami bahagia. Tak aka apa-apa jika kami harus di jajah dan di tindas. Bukankah Indonesia harus menunggu 350 tahun untuk merdeka dari penjajahan bangsa belanda?

Bukan Indonesia harus menunggu 3,5 tahun untuk merdeka dari penjajahan bangsa Jepang?

Dan kami akan sabar menunggu hari esok untuk merdeka dari penjajahan preman kampus. Mungkin saat ini biarlah kami berkawan dengan ketidakmerdekaan.
Keadilan hanya untuk mereka yang memiliki ilmu tinggi.

Tak ada yang namanya lagi proses memanusiakan manusia. Cita-cita negara tentang pendidikan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa hanya menjadi sebuah janji yang sakral. Tak ada yang namanya hak bagi kami, yang ada hanyalah kewajiban. Kartu garansi demokrasi kami tak punya, hanya mereka yang punya kebebasan berpendapat.

Memang sekarang bukan lagi tampilan fisik yang di nilai, tapi kecerdasaan intelektual. Maka siapa yang punya tingkat pengetahuan yang rendah, maka bersiaplah untuk di jajah. Itulah sistem pendidikan kita saat ini. Sistem pendidikan yang akan melahirkan generasi yang membebek dan berwajah otoriter.

Ternate, 09 MEI 2018